Oleh
Lismanto
Dimuat Tabloid My School
Jakarta
APA yang terlintas di benak kita saat mendengar kata “si
tempe” dan si “keju?” Yup, pasti kita
sudah bisa meraba kalau “si tempe” identik dengan orang kelas ekonomi menengah
ke bawah, sedangkan “si keju” identik dengan golongan ekonomi menengah ke atas.
Tak terkecuali di lingkungan sekolah, “si tempe” dan si “keju” pasti ada.
Nah, kali ini kita akan menimbang bagaimana prestasi “si
tempe” dan si “keju” di sekolah. Apakah kondisi ekonomi turut menentukan prestasi?
Atau sebaliknya, kondisi ekonomi samasekali tidak punya hak untuk menentukan
prestasi? Atau malah kondisi ekonomi menjadi “cambuk” untuk berani berprestasi?
Sebelum
kita mencoba menimbang prestasi “si tempe” dan si “keju,” terlebih dahulu kita
simak kisah Dahlan Iskan, sang Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
sukses berawal dari titik nol. Dahlan Iskan kecil dibesarkan di lingkungan
pedesaan dalam keluarga dengan kondisi serba kekurangan. Bisa dipastikan,
Dahlan Iskan termasuk “si tempe.” Bahkan, dalam buku karangannya, Ganti Hati, Dahlan Iskan menceritakan
bahwa saat ia kecil, ia hanya punya satu celana pendek, satu baju, dan satu
sarung.
Dengan
kondisi yang serba kekurangan itu, apakah nyali “si tempe” lantas menciut?
Jawabannya tidak. Justru dengan kondisi itu, Dahlan Iskan tertantang untuk
lebih maju. Kondisi ekonomi yang sulit tidak menjadi halangan untuk berprestasi
dan meraih mimpi. Kini, selain sebagai Menteri BUMN, Dahlan Iskan juga memegang
jabatan sebagai owner sebuah koran
harian nasional terkemuka, pernah menjadi direktur perusahaan ternama, baik
perusahaan milik negara maupun swasta. Menakjubkan bukan?
Kita
juga pernah mendengar JK Rowling, penulis novel Harry Potter yang dinobatkan sebagai penulis terkaya sepanjang
sejarah. Kisah suksesnya juga tak lepas dari jutaan kegagalan. Meski diliputi
kondisi ekonomi yang memprihatinkan, “si tempe” asal Inggris ini menuntaskan
studinya dengan semangat dan kerja keras. Alhasil, abakadabra! Seperti mantera Harry
Potter, Rowling mampu menyulap kondisinya yang sulit menjadi sebuah
prestasi yang maha besar. Memang, semua berawal dari kemauan dan kerja keras.
Kalau
begitu, siapa yang menentukan untuk berprestasi dan sukses? Kondisi menjadi
“tempe” kah? Tentu tidak. Kisah inspiratif di atas menjadi bukti bahwa kondisi
ekonomi bukanlah satu-satunya parameter untuk lebih berprestasi.
Bahkan
alkisah, seorang murid bernama Sumanto yang lahir dan dibesarkan oleh keluarga
miskin, sekarang menjadi dosen di Universitas Notre Dam, Amerika. Saat masih kuliah
di Indonesia, Sumanto pernah berjualan permen di bus-bus untuk bertahan hidup.
Dengan tekat yang kuat dibarengi dengan prestasi yang cemerlang, ia mendapat
beasiswa S2 dan S3 di Amerika. Kini, “si tempe” menjadi dosen bagi orang-orang
Amerika yang dikenal jenius. Luar biasa, bukan?
Pertanyaannya
kemudian, kalau sekarang “si tempe” kalah prestasi dengan “si keju” lantaran
banyak fasilitas penunjang seperti kursus private,
laptop, internet, dan fasilitas lain yang harus dibayar mahal bagi “si keju,”
itu bukan satu-satunya alasan bagi “si keju” untuk berprestasi. Tetapi lebih
kepada adanya kemauan dan usaha yang keras. Begitu.